Gardaanimalia.com - "Ibu kota" orangutan tak luput dijajah api karhutla. Akibatnya, dua orangutan dievakuasi pada Juli 2026 lalu.
Aroma hangus dan jelaga pekat masih menyergap saat kaki menginjak abu gambut di Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil, pada Kamis, 17 September 2026.
Kebakaran akhir Juni lalu memusnahkan 17 hektare lahan restorasi, hutan muda yang ditanam hampir sedekade lalu sebagai rumah alami orangutan sumatera (Pongo abelii).
Di atas tanah legam tertutup arang, Muhammad Azilul, staf Restorasi SM Rawa Singkil, membungkuk membenarkan posisi bibit pohon rawa yang baru tertancap di tengah sisa-sisa vegetasi yang lumat dihantam bara.
Untuk mencapai blok restorasi ini dari Desa Seuneubok Pusaka, Azilul harus menempuh 12 kilometer jalan tanah selama 30 menit mengendarai sepeda motor.
Tak ada jalur lain, akses tunggal menuju kawasan konservasi ini harus membelah dan melewati gerbang utama kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Agro Sinergi Nusantara (ASN). Dari titik konsesi korporasi inilah petaka bermula pada Selasa, 30 Juni 2026, ketika api melahap rumput kering lalu merambat masuk merusak area restorasi.
Pemadaman berlangsung sengit selama 13 hari penuh. Kekeringan parah membuat saluran air mengering, memaksa tim menggali enam lubang penampungan air secara manual, satu di antaranya berjarak hanya 50 meter dari pondok restorasi yang nyaris rata dengan tanah.
Amukan api tak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga memutus ruang gerak satwa dilindungi di sana.
“Sebelum kebakaran, orangutan kerap datang dan turun ke area pondok restorasi. Dalam seminggu ada sekali dia turun. Tapi sejak kebakaran terjadi, tidak pernah terlihat lagi,” tutur Azilul sembari menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan rekaman video kehadiran seekor orangutan sebelum lokasi itu dicabik-cabik api.
Keresahan Azilul perlahan terbukti oleh kejadian di luar batas kawasan. Hilangnya kanopi akibat kebakaran diduga kuat memutus jalur pergerakan orangutan, memaksa mereka mencari ruang hidup baru hingga bersinggungan dengan permukiman warga.
Sepekan sejak api berkobar di HGU PT ASN, pada Selasa, 7 Juli 2026, BKSDA Aceh terpaksa mengevakuasi dua orangutan jantan dewasa di perkebunan sawit warga Desa Seuneubok Pusaka, Kecamatan Trumon Timur, Aceh Selatan.
Lokasi ditemukannya kedua primata itu hanya berjarak tiga kilometer dari titik kebakaran dan satu kilometer dari batas terluar SM Rawa Singkil.
Meski ditemukan dalam kondisi fisik sehat, ada anomali perilaku yang janggal. Saat petugas berupaya menggiring kedua satwa endemik itu kembali ke arah hutan SM Rawa Singkil yang hangus, mereka menolak keras dan enggan masuk ke tajuk pohon yang tersisa.
Keengganan ini memaksa BKSDA Aceh mengubah rencana dan melepasliarkan keduanya ke zona SM Rawa Singkil yang vegetasinya masih utuh di wilayah Lae Trep, Kabupaten Aceh Singkil.
Bara di Lahan Restorasi
Menurut Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor 138 Tahun 2025, Ekosistem SM Rawa Singkil membentang seluas 81.823,79 hektare yang melintasi tiga daerah, yakni Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Aceh Singkil.
Namun, jika merunut pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 166/Kpts-II/1998, benteng gambut ini semula memiliki luas mencapai 102.500 hektare. Tetapi, tingginya laju alih fungsi lahan dan perambahan untuk perkebunan sawit secara perlahan terus menggerogoti benteng gambut tersebut.
Kerusakan kronis ini terekam jelas dalam pantauan citra satelit Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).
Manager GIS HAkA, Lukmanul Hakim, mengungkapkan bahwa sepanjang 2019 hingga Februari 2026, SM Rawa Singkil telah kehilangan tutupan hutan seluas 2.747 hektare.
Tren deforestasi tersebut mencatatkan peningkatan tajam sejak 2022 (716 ha) dan mencapai puncaknya pada 2023 dengan hilangnya 832 hektar tutupan hutan. Meski sempat melandai pada 2024 (425 ha) dan 2025 (457 ha), akumulasi kerusakan terus berlanjut hingga mencatatkan 81 hektare kehilangan tutupan hutan hanya dalam dua bulan pertama pada Februari 2026.
"Pembukaan lahan di SM Rawa Singkil kerap menggunakan pola ekspansi. Hutan ditebang, lalu dibakar. Aktivitasnya digeser semakin jauh ke area dalam kawasan agar tidak terlihat dari luar, hingga tiba-tiba kanal-kanal pengeringan sudah terbangun," kata Lukmanul Hakim, Jumat (25/9/2026).
Menurut Lukman, metode pembersihan lahan dengan cara membakar di atas tanah gambut merupakan ancaman ganda.
Selain melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif yang memicu perubahan iklim dan merusak ruang hidup satwa endemik seperti orangutan sumatera, dampak kebakarannya menghantam langsung kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitar.
"Asap dari pembakaran lahan ini berdampak buruk pada kesehatan warga dan merusak mata pencaharian warga lokal," jelas Lukman.
Rekam jejak pembersihan lahan inilah yang membayang-bayangi Blok Restorasi SM Rawa Singkil seluas 186,6 hektare. Kawasan ini tadinya merupakan kebun sawit yang dikembalikan ke BKSDA Aceh pada 2017.
Proses pemulihannya melibatkan kolaborasi dengan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Forum Konservasi Leuser (FKL), dan Wildlife Conservation Society (WCS), yang diawali penumbangan sawit ilegal serta penanaman bibit pohon rawa sejak Mei 2018.
Manager Restorasi dan Riset Biodiversity OIC, Rio Ardi, menegaskan pentingnya pemulihan area SM Rawa Singkil yang sudah beralih fungsi tersebut.
Di tempat pembibitan (nursery), dikembangkan 32 jenis pohon rawa seperti meranti rawa (Shorea johorensis), punak (Tetramerista glabra), hingga jambu-jambuan rawa (Syzygium) berdasarkan kalender musim buah alami.
"Singkil itu ibu kota orangutan (sumatera). Kita harus selamatkan karena sekeliling kawasan sudah terfragmentasi oleh perkebunan sawit," kata Rio Ardi.
Upaya bertahun-tahun itu sempat membuahkan hasil. Kamera pengintai (camera trap) mencatat kembalinya sembilan spesies mamalia dan 40 jenis burung. Bahkan, satu individu orangutan jantan dewasa yang dinamai Rembo rutin singgah setiap bulan di sekitar lokasi restorasi untuk menyantap petai rawa.
Namun, amukan api pada akhir Juni 2026 memusnahkan hasil kerja keras tersebut dalam hitungan jam. Proses pemadaman di atas lahan gambut yang membara itu menyerap energi luar biasa dari tim di lapangan.
Pasca-kebakaran, OIC menyisir lokasi menggunakan drone thermal untuk memastikan area benar-benar bebas dari titik api sebelum penanaman ulang dimulai. Pemantauan ini sekaligus mendeteksi pergerakan satwa pasca-bencana.
“Di lapangan kami tidak menemukan satwa-satwa yang terdampak parah. Mereka hanya terpaksa merangsek masuk lebih jauh ke dalam kawasan untuk menghindari kobaran api,” ungkap Rio.
Selain pembuatan sekat kanal untuk menahan laju pengeringan, alat ukur air gambut juga dipasang guna memantau tinggi muka air di kedalaman gambut yang mencapai 3 hingga 5 meter sebagai indikator utama dalam mengukur tingkat kerentanan kebakaran.
Ancaman Bermula dari Batas Konsesi
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, membenarkan bahwa api yang melahap lahan restorasi berasal dari dalam konsesi HGU PT ASN akibat perapian pemancing. Mengingat satu-satunya akses masuk ke blok restorasi dikontrol melalui gerbang perusahaan, kelonggaran pengawasan korporasi berakibat fatal bagi kawasan konservasi di sekitarnya.
Kerugian akibat amukan api tersebut tidak hanya terasa secara ekologis, tetapi juga finansial. Ujang mengestimasi nilai kerugian akibat pemusnahan lahan tersebut dengan menghitung beban biaya pemulihannya kembali.
"Estimasi dengan mensubstitusi biaya restorasi penanaman per hektar, kerugian setidaknya mencapai kurang lebih Rp175 juta," ungkap Ujang.
Ujang mengungkapkan, dari delapan kawasan konservasi di bawah BKSDA Aceh, SM Rawa Singkil menduduki peringkat pertama kawasan paling rawan hotspot.
"Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit masih terjadi sampai sekarang dengan cara membakar. Tapi, ya, upaya kita pertebal saja pengawasan pencegahannya," ucapnya.
Dampak karhutla tersebut memaksa BKSDA menghentikan sementara aktivitas pelepasliaran orangutan di blok restorasi SM Rawa Singkil.
Sepanjang 2017–2025, tercatat 38 individu orangutan telah dilepasliarkan di kawasan suaka margasatwa tersebut. Dari jumlah itu, 15 individu di antaranya dilepasliarkan di area restorasi yang kini terdampak kebakaran.
"Rilis di area restorasi sementara distop. Selain karena kebakaran, kapasitas di sana sudah cukup dan akan dialihkan ke lokasi lain," terang Ujang.
Sementara itu, jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation dalam penelitian berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023”, yang diterbitkan pada 20 Juni 2026, mencatat penurunan populasi orangutan sumatera di SM Rawa Singkil. Pada 2011, populasinya diperkirakan mencapai 1.295 individu. Namun, pada 2023, jumlah tersebut turun menjadi 1.077 individu.
Memulihkan 17 hektare gambut yang hangus membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tanpa pengawasan ketat di batas konsesi korporasi dan penghentian perambahan, satwa-satwa lindung di SM Rawa Singkil akan terus terdesak, dan bibit-bibit baru yang ditanam Azilul akan selalu terancam kembali menjadi abu.
Hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi kepada pihak PT Agro Sinergi Nusantara (ASN) masih terus dilakukan.
Penulis telah menghubungi pihak perusahaan melalui pesan WhatsApp sejak 29 September 2026 dan mengirimkan permintaan konfirmasi melalui surat elektronik (email) sejak 13 Oktober 2026. Namun, hingga tulisan ini diselesaikan, belum ada tanggapan yang diterima.
Liputan ini diproduksi atas dukungan Garda Animalia melalui Indonesia Biodiversity Watch.



![Kepunahan Berkelindan [2]: Senyap Karhutla Menatap Mentilin dan Kukang Bangka](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kepunahan-berkelindan-2-senyap-karhutla-menatap-mentilin-dan-kukang-bangka.webp)
![Kepunahan Berkelindan [1]: 72 Hektare TN Gunung Maras Hangus, Satwa Liar dalam Ancaman](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kepunahan-berkelindan-1-72-hektare-tn-gunung-maras-hangus-satwa-liar-dalam-ancaman.webp)











