Gardaanimalia.com - Induknya tak ditemukan, kelompoknya tak diketahui di mana. Seekor anak kijang muncak ditemukan BBKSDA Jawa Timur dalam keadaan luka di lokasi terbakar.
Anak kijang muncak itu belum ada empat bulan usianya. Ia ditemukan Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur dalam keadaan cedera di sekitar Pos Putri, Curah Kluntung, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Kamis (22/10/2026).
Satwa bernama latin Muntiacus muntjak muntjak ini diselamatkan dari kebakaran hutan yang melanda Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Tim medis menemukan cedera pada kaki, yaitu kuku kaki depan dan belakang terlepas.
“Memang menyedihkan apalagi masih anakan berusia belum setengah tahun yang harus menyusu pada induknya,” ujar Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda BBKSDA Jatim Fajar Dwi Nur Aji kepada Garda Animalia, Senin (26/10/2026).
Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan yang berada di lokasi segera mengevakuasinya dari area kebakaran.
Satwa malang itu kemudian dibawa ke Pos Resort Sumber Brantas sebelum penanganannya dikoordinasikan dengan Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur.
Meski mengalami cedera, kondisinya terpantau baik dan tidak dalam kondisi lemas ketika tiba di fasilitas karantina. Penanganan awal dilakukan dengan memberi analgesik dan vitamin, pembersihan luka, serta antibiotik topikal.
Akan tetapi, ia belum terpantau makan pada keesokan harinya (23/10/2026), meskipun variasi pakan tambahan telah diberikan. Perawatan luka dan terapi masih dilanjutkan.
Dugaan sementara, cedera berkaitan dengan paparan panas dan kondisi kebakaran di sekitar lokasi penemuan. Namun, penyebab pasti luka belum dapat disimpulkan. Dengan kondisi tersebut, kijang tidak dapat langsung dilepasliarkan.
Kini, anak kijang itu masih dalam proses pemulihan di kandang karantina Lembaga Konservasi PT Bunga Wangsa Sedjati Lembaga Konservasi Jawa Timur Park 2.
Dampak yang Tak Terlihat Menimpa Satwa
Kijang muncak adalah salah satu mamalia yang hidup di kawasan Tahura Raden Soerjo, Kota Batu, Jawa Timur.
IUCN Red List mencatat spesies ini berstatus least concern dengan tren populasi menurun karena kerusakan habitat dan perburuan liar.
Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan bahwa karhutla tidak hanya membakar vegetasi, tetapi berdampak pula pada satwa liar meskipun tak selalu terlihat langsung.
Menurutnya, sulit untuk menghitung dampak karhutla terhadap satwa. Karhutla seringkali hanya dibaca melalui angka, luas areal terbakar, jumlah titik api, atau vegetasi yang hangus. Padahal, ada satwa yang berpindah menjauhi api, kehilangan tempat berlindung, dan terluka.
Dirinya menekankan, penanganan tidak boleh terburu-buru hanya karena ingin lekas mengembalikan satwa ke alam.
“Untuk anakan kijang ini, yang terpenting sekarang bukan seberapa cepat ia kembali ke hutan, tetapi memastikan luka dan kondisinya benar-benar pulih sehingga keputusan berikutnya tetap berpihak pada keselamatan dan sifat liarnya,” tambahnya.
Nur Patria berkata belum diketahui bagaimana anak kijang ini terpisah dari kelompoknya dan di mana induknya berada.

![Bencana Terencana: Jejak Api Karhutla yang Diabaikan Negara [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/bencana-terencana-jejak-api-karhutla-yang-diabaikan-negara-bagian-1.webp)
![Kepunahan Berkelindan [2]: Senyap Karhutla Menatap Mentilin dan Kukang Bangka](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kepunahan-berkelindan-2-senyap-karhutla-menatap-mentilin-dan-kukang-bangka.webp)












